Senin, 14 Mei 2012

AA Kunto A, Pendiri Perguruan Menulis

“Menulis adalah berekspresi, sama dengan berbicara. Semua orang bisa berbicara maka semua orang bisa menulis. Akan aneh bila seseorang yang normal tidak berbicara, begitu pula akan aneh jika tidak menulis. Menulis itu mudah. Semua orang pasti bisa menulis” (AA Kunto A)



Di suatu pagi saat matahari belum terlalu terik, seorang lelaki datang dengan mengendarai motor tua. Dengan ramah Ia mempersilakan saya untuk duduk di sebuah lincak (kursi dari bilah-bilah bambu), “monggo..monggo” katanya. Saat itu, ia nampak kelelahan. Maklum saja, ia baru saja selesai rapat dengan relasi kerjanya.



Namanya AA Kunto. Usianya 34 tahun. Ia terlihat begitu semangat dan bersahaja ketika berbicara. Sesekali celoteh lucu dan tawa renyah terlontar. Suasana pun terpecah riang. Menulis, menerbitkan, bersepeda, makan-makan, dan memaknai hidup, semua itu diilhami oleh pria ini.


Seakan tak pernah habis menyusuri keistimewaan Yogyakarta yang kental akan keramahan dan budaya yang kental. Keistimewaan Yogyakarta bertambah dengan adanya sebutan sebagai kota wisata buku. Bagaimana tidak? Dalam satu tahun saja di Yogyakarta sudah ada belasan pameran buku. Sebutan itu pun diperkuat oleh AA Kunto dengan didirikannya STMJ (Sekolah Tinggi Menulis Jogjakarta).

Karir menulisnya dimulai pada tahun 1994. Saat itu ia masih SMA. ia baru saja mengalami kecelakaan. Kakinya terpaksa harus diistirahatkan dan harus memakai alat bantu tongkat untuk berjalan. Namun demikian, sekolahnya mewajibkan semua muridnya mengikuti ekstrakurikuler sebagai syarat kenaikan kelas. Kebingungan melandanya, ia ingin mengikuti olah raga. Apa daya, kakinya tak menudukung untuk berolah raga.Kemudian ia memilih untuk mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik. Dari situ ia kemudian mendaftarkan diri menjadi reporter kolom remaja GEMA, halaman khusus untuk pelajar yang dikelola harian BERNAS. Perjalanan sebagai reporter berlanjut di saat ia kuliah di UGM, selama 1 tahun Kunto bergabung dengan majalah kampus bernama Balairung. Tak puas sampai situ, ia berpindah ke majalah Basis menjadi reporter selama tujuh tahun. Setelah lulus kuliah pada tahun 2003, ia hijrah ke Jakarta dan bekerja di majalah Marketing sebagai redaktur dan freelance sebagai ghostwriter. 2007 ia kembali ke Yogyakarta dan bekerja di penerbit Galang Press sebagai pemimpin redaksi.

Sebagai wartawan, berbagai penugasan jurnalistik telah dilalakoni. Sebagai editor, puluhan buku telah ia sunting. Sebagai penulis, banyak buku telah ia karang. Sebagai pembicara, forum pelatihan di berbagai kota di Indonesia juga telah ia hadiri. Hingga pada tahun 2010 ia bosan menjadi karyawan. Ia memilih keluar dari pekerjaan dan berwirausaha di bidang media.  Ia mendirikan sebuah penerbit kecil-kecilan, ia menyebut penerbit kaki lima.

Dalam tulisannya berjudul “Guru Samino” di blog-nya dan Kompasiana, dia bercerita banyak hal dan setelah saya baca, sepertinya pernyataan dari guru SMA-nya ini lah yang membakar semangatnya untuk berwiraswasta. Berikut saya kutip :

“Isih melu uwong, Le?” Masih bekerja ikut orang, Le? Ini pertanyaan latah yang kerap ia lontarkan jika kami bertandang di rumahnya, 1 km sebelah barat Candi Prambanan, Kalasan. Jika jawabannya “ya”, ia akan menghardik, “Isih dadi batur yen ngono?” Masih jadi pesuruh!

Di matanya, kartu nama kami, dengan embel-embel jabatan supervisor, manajer, bahkan direktur, tidaklah membuatnya kagum. Pamer apa pun di depannya tiada berguna. “Lehmu entuk duit seka ngendi kuwi?” cecarnya jika kami pamer gaji atau kekayaan. Selagi masih diperoleh dengan cara bekerja sebagai karyawan, di matanya nilai kami masih 6.
Bagi Samino, profil murid yang ia kagumi adalah mereka yang berani mandiri. Wiraswasta!

STMJ
26 Oktober 2011 di sore hari pukul 5 sore. Waktu itu gunung Merapi baru saja mengeluarkan wedus gembelnya. Di sebuah tempat bernama Solusi Distribusi, Kunto, Haryadi dan Lina sedang berdiskusi tentang seputar penerbitan. Muncullah ide untuk membentuk sebuah lembaga pelatihan menulis dan agensi naskah untuk penerbit. “Gagasan awal dari berdirinya STMJ adalah karena adanya gap antara penerbit dan penulis. Banyak penulis tersedia namun takut untuk menembus penerbit. Begitu pula pihak penerbit tak mengetahui banyak penulis. Banyak penerbit butuh penulis, banyak penulis butuh penerbit. Kami hadir di tengah-tengahnya”. Bagi kunto, penulis-baru tidak bisa dilepaskan begitu saja. “Biasanya penulis pasti ingin bukunya diterbitkan”, Kunto dan STMJ hadir dengan konsep pelatihan-menulis berbayar dengan garansi bahwa peserta pasti menghasilkan buku. “Kami memang menerapkan tarif tertentu tapi itu untuk pelatihan yang sifatnya kolektif dan jika kami diundang ke suatu tempat dalam jangka waktu tertentu”.

Pelatihan sesungguhnya ia berlakukan secara gratis. Bahkan, pelatihan menulis gratis ini boleh dikatakan privat. Mengapa? Penulis pemula dipersilakan mengajukan ide buku yang ingin ditulis dalam bentuk outline. Ide ini disampaikan secara online ataupun bisa datang sendiri kepada Kunto. Jika ide dan outline disetujui maka Kunto akan memberitahu penulis pemula itu tentang langkah apa yang harus dikerjakan. Langkah demi langkah sang penulis dibimbing sampai menghasilkan sebuah buku.
“Banyak sekolah menulis yang sudah ada seperti Indscript di Bandung, SMM di Semarang, RedCarpet di Jakarta, dan masih banyak lagi. Saya tegaskan bahwa kami memang meniru konsep mereka karena tujuannya sama, yaitu membuka wawasan manusia melalui tulisan”, kata pria yang hobi bersepeda ini.

Wisata Jurnalistik
Banyak wisatawan datang ke Yogyakarta. Biasanya mereka hanya punya cerita yang biasa-biasa saja. Mungkin hanya mendengar penjelasan dari pemandu wisata yang mendampingi. Cerita yang didapat akan terasa sangat membosankan. Kalau hanya melihat Kraton yang dilihat dari sudut pandang sebuah kerajaan, mungkin sudah semua orang mengetahui. Melihat gudeg dari sudut pandang makanannya, mungkin juga sudah banyak orang sudah mengerti. Kunto mengajak para wisatawan mengetahui dan mengabarkan Yogyakarta dari sudut pandang yang berbeda. “Temukan sendiri Jogjamu”, itulah prinsip yang diangkat Kunto dalam program wisata jurnalistik ini. Dengan kata lain, peserta akan menjadi pemandu untuk dirinya sendiri. Wisatawan atau peserta wisata jurnalistik akan diajak blusukan, peserta akan diajak ke tempat wisata yang diinginkan. Tentu, ada tarif tertentu yang harus dibayarkan. Lalu, di mana letak jurnalistiknya? “Program ini hanya dibuka pada musim liburan. Peserta akan diberikan materi : teknik wawancara, pengumpulan ide, dan teknik menulis cerita, teknik menulis feature. Biasanya tulisan hasil tulisan mereka ditampilkan melalui blog”. Menurutnya, dengan mengajak wisatawan mengetahui Yogyakarta dilihat dari sudut pandang yang berbeda berarti ia telah ikut membantu membuka wawasan banyak orang tentang Yogyakarta.
Kula Nuwun mas Kunto, saya nulis panjenengan njih hehe kritikannya saya terima. hehe

Saya akhiri tulisan ini dengan kata-kata Pramoedya Ananta Toer
“Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, Ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

Jumat, 11 Mei 2012

Salah Mengerti Kata “Yatim”

Salah pengartian kata-kata dalam Bahasa Indonesia kembali saya temukan. Rata-rata, kesalahan pengartian itu didapat dari guru sekolah dan apa yang didengar di televisi.
Beberapa waktu lalu, teman saya mengirim sebuah pertanyaan di di grup BBM. Begini :

Salah satu soal ujian Bahasa Indonesia.
Pilihlah mana yang benar

a. Anak yatim itu dipukuli ayah kandungnya.
b. Anak yatim itu dipukulkan ayah kandungnya.
c. Anak yatim itu di pukuli ayah kandungnya.
d. Anak yatim itu di pukulkan ayah kandungnya.

Hayo siapa yang bisa jawab soal ini.

Beberapa teman memilih jawaban A, beberapa berkata tidak ada jawaban benar. Lalu ada pertanyaan “Kok jawab A kenapa?” teryata alasannya adalah “dipukuli itu yang bener disambung, bukan dipisah jadi di pukuli.” Menurut buku EYD, alasan ini benar. didan i dalam kata dipukuli adalah sebuah imbuhan yang ditulis serangkai dengan kata dasar. Sedangkan jika kata depan di memang ditulis terpisah dari kata dasar. Contoh kata depan di : di kantor , di sana , dll.

Sedangkan beberapa teman yang sudah pernah mendapatkan pertanyaan ini menertawakan teman yang menjawab A. Dengan santai mereka bilang “Goblog, pasti nggak lulus SD. Anak yatim kan sudah tidak punya ayah”. Setelah membaca ini, saya teringat dulu saat masih duduk di SD, guru PPKN dan Bahasa Indonesia dengan tegas menjelaskan bahwa anak yatim adalah anak yang sudah tidak punya ayah, sedangkan anak piatu adalah anak yang sudah tak mempunyai ibu. Dan benar, setelah saya tanya kepada teman-teman, mereka mengacu pada penjelasan guru di waktu SD dan SMP. Mereka menunjukkan bukti catatan dan buku paket yang masih disimpan. Beberapa memotretnya dan di-upload di grup Blackberry. Saya tertawa kecil sambil mengenang masa itu.

Semasa kuliah, dosen saya pernah menjelaskan tentang hal ini. Kata anak yatim, adalah sebutan untuk anak yang sudah tidak mempunyai salah satu orang tua, tak punya ayah atau tak punya ibu. Hanya salah satu. Bisa juga disebut anak piatu. Maknanya sama. Kemudian saya coba cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia dan KBBI online karena dua sumber itu yang saya yakini bisa menjadi patokan.

ya·tim a tidak beribu atau tidak berayah lagi (krn ditinggal mati);

Begitulah kira-kira isinya. Sedangkan jika yatim piatu adalah anak yang sudah tidak punya kedua orang tua. Lalu siapa yang keliru? Bukan saatnya menyalahkan. Namun, akan lebih baik jika para guru SD sebaiknya membekali dirinya dengan pengetahuan yang cukup dan terpercaya. Mereka adalah salah satu penentu masa depan bangsa. SD adalah dasar dari sebuah pendidikan, jika dasarnya ditanamkan kekeliruan maka akan yang akan tumbuh juga sebuah kekeliruan. Memang, kekeliruan semacam ini bisa diperbaiki di saat pendidikan selanjutnya. Namun demikian, mengapa tidak dilaksanakan dari dasar? Semakin banyak yang keliru, semakin banyak pula yang harus diperbaiki. Semoga adik-adik kita akan mendapatkan hak mereka untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Salam dari Yogyakarta.

Selasa, 08 Mei 2012

Hamzah, Mengenalkan dan Mengajak Belajar Seni Budaya Yogyakarta


Diawali dengan menyukai seni budaya Jawa, Hamzah hadir menjadi pengusaha sukses yang menampilkan suasana usaha serba Yogyakarta

Jika Anda pernah berkunjung ke Mirota Batik dan The House Of Raminten, pasti akan merasakan suasana khas Yogyakarta. Suara tabuhan gamelan, tampilan bunga sesaji, kereta kencana, pakaian adat, batik, dan suasana ramah menjadi pemanis suasana di kedua tempat itu.

Keberhasilan Hamzah, pria 62 tahun, pemilik Mirota Batik dan The House of Raminten ini mengawalinya dari kecintaannya terhadap kesenian Jawa. Diawali pada saat dirinya berumur 6 tahun, ibunya mengajaknya untuk mengikuti kursus menari Jawa Mataraman di rumah Walikota Yogyakarta pada saat itu, Pak Purwokusumo. Dari saat itu, dia menyukai karawitan, menari klasik, nembang, wayang orang, ketoprak. “awal mulanya ya ibu saya yang mengursuskan saya di rumah Pak Purwokusumo itu, kalau ditanya apa sebabnya saya suka seni budaya Jawa, tapi banyak orang yang tidak menyukai, tapi kok saya suka” jelasnya.

Meskipun sang ibu berasal dari keturunan Tionghoa, namun jiwanya lebih Jawa daripada orang Jawa. Hamzah menjelaskan “Beliau pun juga sangat suka dengan budaya Jawa, beliau bisa menari dan jaman dulu suka mendengarkan siaran ketoprak di radio” 

Di umurnya yang sudah tidak muda lagi, Hamzah masih tetap belajar menari Jawa Klasik. “Sampai saat ini, setiap hari selasa saya masih latihan menari. Saya diajar oleh Pak Matheus Anwar Santosa. Beliau mengajar tari Gaya Yogyakarta yang sudah jarang ditarikan oleh kebayakan orang seperti Serimpi Pandenori dan Bedhaya Kakung” tutur pria yang pandai mendesain pakaian ini. Pada umumnya tarian klasik di jaman sekarang sudah dimodifikasi, yang tadinya berdurasi kurang lebih dua jam kini hanya dipersingkat menjadi hanya 45 menit saja.  Keinginannya dalam mempelajari tari begitu besar. Meskipun dalam mempelajari tari klasik Jawa terkenal sangat berat, hamzah rela meluangkan waktunya walau dalam kurun 3 tahun, namun ia hanya mempelajari 3 repertoar tari saja.

Perjuangannya dalam bidang seni budaya Jawa tak berhenti sampai di situ saja. Dulu, ia mendirikan group tari bersama Lies Apriani yang kemudian dikenal dengan nama Grup Malem seton. Dinamakan demikian karena dulunya grup ini berlatih setiap Jumat malam atau malam Sabtu. Sekarang grup tersebut sudah berganti latihan pada hari Selasa malam. Grup ini didirikan atas dasar pengabdiannya terhadap seni budaya. Bagaimana tidak, latihan tari terbuka bagi ibu-ibu dari mana pun dan tidak dipungut biaya. Grup ini pun sering pentas di Bangsal Srimanganti Kraton Yogyakarta. Sejak puluhan tahun yang lalu hingga sekarang, grup tari ini semakin bertambah peminatnya. Barangkali ada dari Anda para pembaca sekalian yang ingin bergabung, pintu sangat terbuka lebar. Mungkin Anda juga bisa ikut untuk bersama-sama belajar tentang tari klasik.

Tak mau kalah dengan para ibu-ibu di luar sana yang berlatih tari di area Mirota Batik, karyawan Mirota Batik pun mempunyai group karawitan. Pada awalnya Hamzah mempunyai seperangkat gamelan dan kebetulan ada  salah satu karyawan dari mirota batik yang hobi dengan karawitan. Kemudian ia mengumpulkan data tentang karyawannya yang lain yang juga tertarik pada karawitan. Setelah terkumpul, terbentuklah grup karawitan karyawan yang diampu oleh pelatih dari Kraton Yogyakarta, Pak Fuad. Seperti pada grup tari Malem Seton, Perhatian Hamzah terhadap kelangsungan seni budaya memang cukup besar. Grup karawitan ini juga tak dipungut biaya sedikit pun. Segala biaya sudah ditanggung olehnya. Namun, agak berbeda dengan grup tari, grup karawitan ini diperlakukan denda untuk anggota yang tidak hadir tanpa alas an yang jelas. “konsekuensinya ya ada denda, makanya mereka pasti datang, ya walau pun mungkin terpaksa takut didenda..ha ha ha”, candanya.

Ruang Usaha 
Yogyakarta adalah salah satu kota tujuan wisata yang cukup tersohor di bumi pertiwi ini. Banyak potensi yang ada di dalamnya, seperti banyak kerajinan wayang kulit, topeng, dan kerajinan lainnya. Hamzah, mempunyai inisiatif untuk mengangkat potensi tersebut. Ia mendatangi sendiri para perajin dan memboyong karya-karya para perajin untuk dijual di tokonya. Kadang, jika mempunyai ide kerajinan baru, ia kemudian menggambarnya dan mengonsep dalam bentuk sketsa kemudian mendiskusikan kepada para perajin untuk mewujudkan ide tersebut ke dalam bentuk fisik. Karena ketekunannya merangkul perajin ini, ia saat ini menjadi salah satu pengurus Dewan Kerajinan Nasional Propinsi DIY.

Keinginan mengangkat potensi Yogyakarta tak hanya soal kerajinan. Di semua tempat usahanya, selalu kita akan menemui suasana pakaian dan suasana dengan sentuhan adat Yogyakarta.  Di Mirota Batik misalnya selain lantunan suara gamelan, biasanya kita akan melihat orang berpakaian surjan atau kebaya di pintu masuk, koleksi kereta, dan banyak dagangan bernuansa adat, seperti permainan tradisional, batik dan banyak hal lagi.

Demikian pula di warungnya The House Of Raminten. “Tempat ini dulunya tidak dirancang untuk laris, tapi kok sekarang laris” candanya.Pertama kali kita masuk pasti akan mendengar lantunan suara gamelan dan tampilan kereta. Kita pun juga akan disambut para karyawannya yang menggunakan pakaian dengan sentuhan Yogyakarta. Menu makanannya pun juga menawarkan makanan yang khas Yogyakarta. Awalnya, warung ini hanya menjual jamu dan beberapa makanan khas Yogyakarta. Namun karena semakin laris, sekarang menunya sudah sangat banyak dan mempunyai nama yang unik. Wedang prawan tancep misalnya, nama ini dibuat demikian karena resep menu tersebut didapat dari Dusun Tancep, Wonosari.

“Yogyakarta sebagai tujuan wisata harus disyukuri, oleh sebab itu makanan, pakaian, suasananya juga Yogyakarta. Suasana toko kan juga sangat Jogja, ya suasana kan juga bisa dijual”, katanya.

Perjalanan karis bisnisnya pun pernah mengalami keterpurukan. Pada tahun 2004, tokonya yang terletak di ujung selatan Jalan Malioboro ini pernah mengalami musibah kebakaran. Semua isinya terbakar habis. Hamzah mendapatkan dukungan dari banyak teman dan para karyawannya. Dari keterpurukan tersebut, ia tak memecat satu pun karyawannya. Mereka bergotong-royong membangun lagi tempat tersebut. “ini adalah pengalaman yang orang lain tidak punya namun saya punya. Saya bersyukur saja pernah mengalami seperti itu. Walau pun harta benda telah habis namun dukungan dari para teman telah menguatkan saya. Saya harus kuat dan ini harus berdiri lagi”. Pribadi yang ramah membuat Hamzah dicintai banyak kawan. Akhirnya kini tempat usahanya telah kembali berdiri dan menjadi tujuan para wisatawan dan tetap mempertahankan suasana khas Yogyakarta.




Senin, 30 April 2012

Pedagang Miras Keliling di Bantul

foto saya ambil dari : http://shalluvia.blogspot.com

Kalau Anda melihat foto di atas, tidak ada yang aneh kan? Hanya jamu yang dijual dengan cara keliling. Biasanya ada beras kencur,kunyit asam, dll. Taukah Anda, belum lama ini di Bantul juga muncul pedagang jamu yang dijual dengan cara keliling, tapi jamu yang dijual adalah nama samaran dari miras yaitu “lapen”.

Pertama kali mendengar kabar ini pun saya sempat tergelitik geli. Ada-ada saja ide orang Jogja. Tapi ide ini kok sepertinya kurang pas ya. Berikut akan saya ceritakan kronologisnya.

Kemarin sore, tepatnya tanggal 29 April jam 16.00. Saya dan beberapa sahabat menjenguk seorang teman di RS Panembahan Senapati Bantul. Dia barusaja menjalani operasi lambung.   Ya, umumnya orang menjenguk kan ngajak ngobrol tentang apa yang dia rasakan, apa sebabnya dan banyak lah obrolan lainnya yg sifatnya hanya pepesan kosong.

Selidik punya selidik, selama beberapa minggu, teman saya si son itu (nama saya samarkan) setiap sore rutin mengonsumsi jamu; begitu dia menyebutnya. Pernah sesekali dia bilang “aku pengen gendut , aku dah minum jamu, skarang perutku tambah gedhe to” katanya sambil menunjukkan perutnya yang sudah membuncit.

Benar memang, dia minum jamu tiap sore. Kira-kira jam 16.30, penjual jamu itu lewat ke perkampungan si Son. Badannya besar dan tambun, naik motor yg diiklankan Komeng. Setiap kali si penjual jamu berhenti menjajakan dagangannya, banyak pemuda dan ABG yg mendatanginya. Tak tampak seperti pedagang yg membawa “kronjot” (keranjang) karena dagangannya ada di dalam bagasi motor. meski demikian, pelanggannya sudah tahu kalau dia sedang jualan jamu.

Para pemuda dan ABG itu bertolak dengan membawa bungkusan plastik.  Sruput demi sruput para pemuda itu menikmati minuman yang mereka sebut sebagai jamu itu. Ternyata, “jamu” cuma sebutan mereka untuk menyamarkan agar tak dianggap negatif oleh warga. Sebenarnya minuman itu adalah LAPEN. Barangkali ada yg belum mengenal apa itu lapen. Kalau untuk orang Jogja, kata itu tidak asing. Kalau di daerah Sragen, dikenal ada miras tradisional namanya CIU, di Kalimantan ada Tuak, nah di Jogja, miras tradisionalnya namanya lapen. Tapi, saya sendiri juga tak tahu secara detail apa bahan dan bagaimana cara membuatnya. Saya sendiri juga belum pernah mengonsumsinya. Kata teman saya sih rasanya “kecing” hehe

Kalau ada yang masih ingat, dalam jangka 4 tahun ini ada beberapa kejadian miras oplosan memakan korban. Ingat? ya minuman lapen lah yang menyebabkan. Berbagai macam bahan kimia dicampur. Kalau yg saya ingat, ada bahan pembersih lantai juga. Ya mungkin tidak semua lapen dibuat dengan bahan yang asal-asalan, ada juga yang dibuat dengan cara yg semestinya. tapi ya bagaimana pun cara membuatnya, kalau namanya miras yg dikonsumsi terlalu banyak juga kurang baik. Temen saya yang juga seorang peminum mengatakan hal ini. “Dulu lapen di Pajeksan itu enak tapi aman”, begitu kata temen saya. Saya akui, saya juga peminum miras, tapi ya bukan pemabuk.

Kembali lagi ke pedagang keliling ya. Para pelanggan biasa memanggil si pedangang dengan nama “bagong”. Daerah jangkauannya saya sendiri kurang paham, tapi ada informasi bahwa dia berkeliling di sekitar selatan ringroad selatan (dongkelan) sampai sekitar pasar Bantul. Dia menjual 3 macam rasa : Lapen murni, Lapen putih (katanya sih pakai susu), dan lapen jamu (katanya memang pakai campuran jamu semacam beras kencur). Harganya dipatok hanya Rp 4000 saja. Ada yang mengonsumsi 1 plastik sehari, ada yg mengonsumsi 2 plastik. Satu plastik yang dimaksud adalah plastik ukuran setengah kilo.

Menurut informasi yang saya terima, orang yg biasa minum lapen akan merasa tersiksa jika sehari saja tidak mengonsumsi lapen. Begitu pula yang terjadi dalam kasus ini, candu lapen sudah menyebar. Modus penjualan lapen ini mungkin tergolong baru dan rapi. Dulu, si bagong ini sempat menjual lapen di rumahnya, tapi karena suatu hal (mungkin karena tertangkap Polisi) ia kemudian menjualnya dengan cara keliling.

Teman saya sudah menjadi korban yang untungnya tidak sampai merenggut nyawanya. Masih banyak yang mengonsumsi lapen keliling ini. entah mau berapa korban lagi yang akan terkena imbas lapen ini. saran saya buat semua yang ingin minum miras, usahakan cari miras yang berkualitas lah, jangan asal mau mabuk. Mahal sedikit tak apa, tapi aman. Tapi juga jangan terlalu over dosis. bukan berarti saya menyarankan dan menghalalkan minuman keras lho. ini hanya sudut pandang dari seorang peminum, saya tidak mau munafik kalau saya pun juga peminum

Saran saya untuk bagong, si pedagang lapen. Anda itu kreatif lho, bisa menemukan ide berbisnis dengan menjemput pelanggan. Ini sudah merupakan inovasi. Anda juga sudah punya pelanggan tetap kan? Kalau bisa, jangan jualan lapen lagi karena sudah banyak yang tau kalau lapen buatan Anda itu berbahaya. Usahakan, Anda berdagang sesuatu yg bermanfaat lah. Terakhir, mas bagong, kamu jangan minum lapen buatanmu ya. bahaya, nanti kamu malah pingsan dan bisa opname.

Tulisan ini pernah jadi HL di kompasiana  30 April 2012 | 14:21
Dibaca: 1721   Komentar: 40   3 dari 5 Kompasianer menilai aktual

Sabtu, 14 April 2012

Kursus Nembang Macapat Gaya Yogyakarta


Dari Alun-alun utara, berjalanlah kira-kira 50 meter ke selatan menuju arah Kraton Yogyakarta. Setelah melewati dua gapura besar berwarna putih, di kiri jalan Anda akan menjumpai sebuah rumah bertuliskan “Kursus Macapat, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Menerima Siswa Baru” di sisi depannya. Barangkali Anda tidak menyadarinya. Sebuah tempat kecil dan tua namun cukup berarti. Tempat ini adalah tempat untuk kursus nembang macapat gaya Yogyakarta.


Seolah tulisan itu memanggil kita untuk mau mempelajari seni tradisi macapat. Pada dasarnya, macapat adalah seni olah vokal menyanyikan tembang Jawa. Pada hakikatnya, macapat dinyanyikan tanpa iringan gamelan. Syair macapat berisi tentang banyak hal, ada tentang sejarah, ajaran hidup, nasehat, doa. Cakupan cerita kehidupan dalam macapat meliputi masa manusia sebelum lahir sampai pada masa penantian ke surga.

Pamulangan Sekar Macapat adalah lembaga milik Kraton Yogyakarta di bawah kepengurusan Kawedanan Hageng Punakawan Krida Mardawa, sebuah bagian yang khusus mengurus kesenian. Tempatnya tak begitu besar, pun pencahayaannya hanya memakai lampu neon dan mengandalkan pantulan cahaya matahari. Di tempat kecil ini, budaya Jawa, khususnya di bidang seni tembang macapat berusaha dihidupkan dan dibagikan ilmunya ke semua orang yang ingin mempelajarinya. Pamulangan berasal dari kata “mulang” yang berarti mengajar. Pamulangan berarti pengajaran. “sekar” berarti lagu, dan “macapat” berarti seni olah vokal Jawa.

Sayup terdengar lantunan nada-nada Jawa. Rupanya itu adalah kegiatan belajar mengajar sekar macapat setiap sore pukul 16.00 -17.30, dari hari Senin sampai Sabtu. Biasanya, kegiatan tradisi hanya diikuti oleh orang yang sudah berumur. Namun, di tempat ini ada beberapa murid dari kalangan anak muda. Seperti Dila misalnya. Dia adalah seorang reporter dari sebuah majalah di tempat kuliahnya di UGM. Wanita ini awalnya hanya ingin meliput keberadaan pamulangan sekar macapat ini.

“Saya asli Tangerang, awalnya saya penasaran hanya ingin tau, kata teman saya setiap Senin sampai Kamis sore ada kursus macapat di Kraton. Namun, lama-lama saya tertarik dengan manfaat dan filosofisnya. Dari macapat kita bisa tahu sejarah dan kita diberi ajaran hidup. Dengan macapat juga kita bisa protes, marah, dan berekspresi”, katanya.

Sebagai orang bukan Jawa, Dila bangga bisa mempelajari kesenian yang sudah tak banyak orang mengetahuinya. “Saya sebagai pendatang saja mau belajar, seharusnya orang Jogja terlebih kaum mudanya juga mau belajar. Bagi pendatang, mari kita mempelajari macapat. Kapan lagi ada kesempatan bisa mempelajari warisan budaya yang luar biasa ini. Saya sudah mulai menyukainya.”, ajaknya dengan penuh semangat.

Berbeda dengan murid yang sudah berumur. Pak Arifin (57 tahun) misalnya, meskipun sudah tua ia merasa perlu untuk mempelajari tradisi macapat ini. Selain untuk melestarikan budaya, ia juga ingin memberi contoh kepada anak muda bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar. “Dengan macapatan (bernyanyi Jawa), hati saya merasa tentram. Syairnya mempunyai makna yang dalam, nadanya menyejukkan. Pernah ada orang jepang yang bilang pada saya kalau dia juga merasa tentram saat mendengar dan menyanyi macapat. Dia pun pernah ikut kursus di sini”

Dengan sebuah tongkat kecil, Romo Projo, sang guru macapat menunjuk ke sebuah kertas yang ditempelkan di dinding. Perlahan dia menunjuk notasi angka sambil menyanyikan notasi dalam bahasa Jawa “mo..lu..ro…ji..nem..mo..”. Satu per satu siswa bergantian menyanyikan sekar. Sesekali ada pula yang salah, Romo Projo pun maklum. Perlahan dia membimbing mereka “Mboten ngaten, kirang inggil titi nadaipun” pandunya dengan bijak.
Bagi Romo Projo, apa yang dia lakukan bukanlah sebuah pekerjaan. Semua adalah pengabdian terhadap seni budaya. Peserta kursus hanya dipungut biaya 10.000 rupiah untuk pendaftaran dan 10.000 rupiah untuk satu bulanpertemuan. “Itu pun kalau peserta memberi, kalau tidak memberi ya tidak apa-apa, yang penting mereka mau mempelajari dengan serius. Saya tidak mewajibkan mereka untuk membayar. Ini sebuah pengabdian yang tak bisa diukur dengan materi. Saya ikhlas.”

Bagi Romo Projo, selain mempelajari macapat, siswa-siswanya secara otomatis pasti mempelajari bahasa dan budaya Jawa. Bahasa pengantarnya pun dia menggunakan bahasa Jawa. “Pada awalnya memang orang yang tidak bisa bahasa Jawa pasti akan keberatan. Namun, bagaimana mungkin orang mempelajari macapat yang semua bahasanya adalah bahasa Jawa tapi tidak mengerti bahasa Jawa. Perlahan mereka akan mengerti. Itu yang menjadi daya tarik buat mereka. Kami tidak memaksa, tapi mengajari.”
Barangkali Anda juga tertarik untuk belajar nembang?

Selasa, 13 Maret 2012

Jemparingan, Seni dan Olah Raga untuk Para Ksatria Panah

Photo : Putro Agustioko

“Sambil menarik busur panah, mata terpicing terarah pada sebuah bedor. Sesekali, sang ksatria panah menghela nafas kemudian melesatkan anak panah ke sasaran.”

Biasanya, banyak orang mengenal olah raga panahan hanya sebatas yang dilombakan dalam festival olah raga berkelas, seperti PON, SEA GAMES, ASEAN GAMES, atau bahkan Olimpiade. Pernahkah Anda mendengar mengenai seni memanah tradisional? Barangkali di setiap pusat kebudayaan nusantara mempunyai olah raga tradisionalnya sendiri, bahkan mungkin mempunyai seni memanahnya sendiri.

Banyak orang mengenal Yogyakarta sebagai kota yang masih sangat menghayati tradisinya. Demikian dengan olah raga tradisionalnya, Jemparingan namanya. Olah raga ini dikenal orang luar Jawa dengan "Panahan Tradisional Mataraman”. Mungkin, namanya tampak asing di telinga kita. Namun demikian, konon sejak 1934 sudah ratusan kali pihak Keraton Yogyakarta menggelar perlombaan untuk olah raga seni memanah ini.

Penanggalan Jawa, mengenal hari Selasa Wage. Di hari itu para ksatria panah bertemu saling mengadu kemampuannya dalam melesatkan anak panah ke sebuah sasaran berupa bandul atau bedor. Acara ini rutin diadakan setiap 35 hari sekali di lapangan Kemandungan Kidul Kraton Yogyakarta, tepatnya di belakang gedung Sasono Hinggil Alun-alun Selatan. Hari tersebut dipilih untuk memperingati hari lahir Sri Sultan Hamengkubuwono X yang bertepatan pada Selasa Wage.

Yang membuat Jemparingan berbeda dengan seni memanah pada biasanya, salah satunya adalah pada posisinya. Dalam Jemparingan, ksatria panah membidik sasarannya dalam posisi duduk bersila. Pakaian yang digunakan pun juga berbeda. Peserta diwajibkan mengenakan pakaian adat, surjan/peranakan, jarit dan blangkon untuk pria, dan kebaya dan jarit untuk wanita.

Filosofi
Suara peluit dari tiupan seorang lelaki paruh baya melengking. Ksatria panah duduk bersila dengan posisi tubuh tegak, tangan kiri lurus memegang busur, membentuk dua barisan menghadap ke arah sasaran sambil membidik sasaran bandul yang kurang lebih berjarak 30 meter. Masing-masing ksatria dapat meluncurkan empat anak panah setiap putarannya. Ada tiga sasaran panah yang disebut bandul atau bedor yang terbuat dari irisan serabut bambu dan diikat menjadi satu. Ada juga bandul yang terbuat dari gabus yang dibentuk silinder berdiameter 3 cm dan dibungkus kain berukuran kurang lebih 30 cm.

Jemparingan berasal kata dari bahasa Jawa “jemparing” yang berarti panah. Konon, Jemparingan adalah kegiatan latihan para prajurit kraton. Namun, lama kelamaan Jemparingan dijadikan lomba olah raga. Pesertanya pun tak hanya dari kalangan kraton atau masyarakat Yogyakarta, orang dari suku atau bangsa lain pun ikut ambil bagian.

Olah raga ini terkesan sangat sederhana tapi panahan juga membantu pelakunya untuk meningkatkan daya konsentrasi. Fokus melatih kesabaran kekuatan "manah" atau hati dan melatih pernapasan adalah kesulitan sekaligus tantangannya. Sama pada saat melakukan olah raga yoga, butuh ketenangan pikiran, dan juga latihan pernapasan untuk mencapai kesempurnaan. Bergoyangnya sasaran karena tiupan angin akan menjadi tak berarti jika dilawan oleh rasa titis sang ksatria. Kemenangan terjadi saat para ksatria dengan ketenangan hati dapat melesatkan anak panah menembus bandul atau sasaran yang berwarna merah putih yang berada jauh dari kita. Ini dimaknai bahwa sang ksatria mampu mengasah rasa dan membangun hubungan dengan sesuatu yang jauh dari kita.

Selasa, 28 Februari 2012

AA Kunto ASang Pendiri Perguruan Menulis

“Menulis adalah berekspresi, sama dengan berbicara. Semua orang bisa berbicara maka semua orang bisa menulis. Akan aneh bila seseorang yang normal tidak berbicara, begitu pula akan aneh jika tidak menulis. Menulis itu mudah. Semua orang pasti bisa menulis” (AA Kunto A)



Di suatu pagi saat matahari belum terlalu terik, seorang lelaki datang dengan mengendarai motor tua. Dengan ramah Ia mempersilakan saya untuk duduk di sebuah lincak (kursi dari bilah-bilah bambu), “monggo..monggo” katanya. Saat itu, ia nampak kelelahan. Maklum saja, ia baru saja selesai rapat dengan relasi kerjanya.


Namanya AA Kunto A. Usianya 34 tahun. Ia terlihat begitu semangat dan bersahaja ketika berbicara. Sesekali celoteh lucu dan tawa renyah terlontar. Suasana pun terpecah riang. Menulis, menerbitkan, bersepeda, makan-makan, dan memaknai hidup, semua itu diilhami oleh pria ini.

Seakan tak pernah habis menyusuri keistimewaan Yogyakarta yang kental akan keramahan dan budaya yang kental. Keistimewaan Yogyakarta bertambah dengan adanya sebutan sebagai kota wisata buku. Bagaimana tidak? Dalam satu tahun saja di Yogyakarta sudah ada belasan pameran buku. Sebutan itu pun diperkuat oleh AA Kunto dengan didirikannya STMJ (Sekolah Tinggi Menulis Jogjakarta).

Karir menulisnya dimulai pada tahun 1994. Saat itu ia masih SMA. ia baru saja mengalami kecelakaan. Kakinya terpaksa harus diistirahatkan dan harus memakai alat bantu tongkat untuk berjalan. Namun demikian, sekolahnya mewajibkan semua muridnya mengikuti ekstrakurikuler sebagai syarat kenaikan kelas. Kebingungan melandanya, ia ingin mengikuti olah raga. Apa daya, kakinya tak menudukung untuk berolah raga.Kemudian ia memilih untuk mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik. Dari situ ia kemudian mendaftarkan diri menjadi reporter kolom remaja GEMA, halaman khusus untuk pelajar yang dikelola harian BERNAS. Perjalanan sebagai reporter berlanjut di saat ia kuliah di UGM, selama 1 tahun Kunto bergabung dengan majalah kampus bernama Balairung. Tak puas sampai situ, ia berpindah ke majalah Basis menjadi reporter selama tujuh tahun. Setelah lulus kuliah pada tahun 2003, ia hijrah ke Jakarta dan bekerja di majalah Marketing sebagai redaktur dan freelance sebagai ghostwriter. 2007 ia kembali ke Yogyakarta dan bekerja di penerbit Galang Press sebagai pemimpin redaksi.

Sebagai wartawan, berbagai penugasan jurnalistik telah dilalakoni. Sebagai editor, puluhan buku telah ia sunting. Sebagai penulis, banyak buku telah ia karang. Sebagai pembicara, forum pelatihan di berbagai kota di Indonesia juga telah ia hadiri. Hingga pada tahun 2010 ia bosan menjadi karyawan. Ia memilih keluar dari pekerjaan dan berwirausaha di bidang media.  Ia mendirikan sebuah penerbit kecil-kecilan, ia menyebut penerbit kaki lima.

Dalam tulisannya berjudul “Guru Samino” di blog-nya dan Kompasiana, dia bercerita banyak hal dan setelah saya baca, sepertinya pernyataan dari guru SMA-nya ini lah yang membakar semangatnya untuk berwiraswasta. Berikut saya kutip :

“Isih melu uwong, Le?” Masih bekerja ikut orang, Le? Ini pertanyaan latah yang kerap ia lontarkan jika kami bertandang di rumahnya, 1 km sebelah barat Candi Prambanan, Kalasan. Jika jawabannya “ya”, ia akan menghardik, “Isih dadi batur yen ngono?” Masih jadi pesuruh!

Di matanya, kartu nama kami, dengan embel-embel jabatan supervisor, manajer, bahkan direktur, tidaklah membuatnya kagum. Pamer apa pun di depannya tiada berguna. “Lehmu entuk duit seka ngendi kuwi?” cecarnya jika kami pamer gaji atau kekayaan. Selagi masih diperoleh dengan cara bekerja sebagai karyawan, di matanya nilai kami masih 6.
Bagi Samino, profil murid yang ia kagumi adalah mereka yang berani mandiri. Wiraswasta!

STMJ
26 Oktober 2011 di sore hari pukul 5 sore. Waktu itu gunung Merapi baru saja mengeluarkan wedus gembelnya. Di sebuah tempat bernama Solusi Distribusi, Kunto, Haryadi dan Lina sedang berdiskusi tentang seputar penerbitan. Muncullah ide untuk membentuk sebuah lembaga pelatihan menulis dan agensi naskah untuk penerbit. “Gagasan awal dari berdirinya STMJ adalah karena adanya gap antara penerbit dan penulis. Banyak penulis tersedia namun takut untuk menembus penerbit. Begitu pula pihak penerbit tak mengetahui banyak penulis. Banyak penerbit butuh penulis, banyak penulis butuh penerbit. Kami hadir di tengah-tengahnya”. Bagi kunto, penulis-baru tidak bisa dilepaskan begitu saja. “Biasanya penulis pasti ingin bukunya diterbitkan”, Kunto dan STMJ hadir dengan konsep pelatihan-menulis berbayar dengan garansi bahwa peserta pasti menghasilkan buku. “Kami memang menerapkan tarif tertentu tapi itu untuk pelatihan yang sifatnya kolektif dan jika kami diundang ke suatu tempat dalam jangka waktu tertentu”.

Pelatihan sesungguhnya ia berlakukan secara gratis. Bahkan, pelatihan menulis gratis ini boleh dikatakan privat. Mengapa? Penulis pemula dipersilakan mengajukan ide buku yang ingin ditulis dalam bentuk outline. Ide ini disampaikan secara online ataupun bisa datang sendiri kepada Kunto. Jika ide dan outline disetujui maka Kunto akan memberitahu penulis pemula itu tentang langkah apa yang harus dikerjakan. Langkah demi langkah sang penulis dibimbing sampai menghasilkan sebuah buku.
“Banyak sekolah menulis yang sudah ada seperti Indscript di Bandung, SMM di Semarang, RedCarpet di Jakarta, dan masih banyak lagi. Saya tegaskan bahwa kami memang meniru konsep mereka karena tujuannya sama, yaitu membuka wawasan manusia melalui tulisan”, kata pria yang hobi bersepeda ini.

Wisata Jurnalistik
Banyak wisatawan datang ke Yogyakarta. Biasanya mereka hanya punya cerita yang biasa-biasa saja. Mungkin hanya mendengar penjelasan dari pemandu wisata yang mendampingi. Cerita yang didapat akan terasa sangat membosankan. Kalau hanya melihat Kraton yang dilihat dari sudut pandang sebuah kerajaan, mungkin sudah semua orang mengetahui. Melihat gudeg dari sudut pandang makanannya, mungkin juga sudah banyak orang sudah mengerti. Kunto mengajak para wisatawan mengetahui dan mengabarkan Yogyakarta dari sudut pandang yang berbeda. “Temukan sendiri Jogjamu”, itulah prinsip yang diangkat Kunto dalam program wisata jurnalistik ini. Dengan kata lain, peserta akan menjadi pemandu untuk dirinya sendiri. Wisatawan atau peserta wisata jurnalistik akan diajak blusukan, peserta akan diajak ke tempat wisata yang diinginkan. Tentu, ada tarif tertentu yang harus dibayarkan. Lalu, di mana letak jurnalistiknya? “Program ini hanya dibuka pada musim liburan. Peserta akan diberikan materi : teknik wawancara, pengumpulan ide, dan teknik menulis cerita, teknik menulis feature. Biasanya tulisan hasil tulisan mereka ditampilkan melalui blog”. Menurutnya, dengan mengajak wisatawan mengetahui Yogyakarta dilihat dari sudut pandang yang berbeda berarti ia telah ikut membantu membuka wawasan banyak orang tentang Yogyakarta.
Kula Nuwun mas Kunto, saya nulis panjenengan njih hehe kritikannya saya terima. hehe

Saya akhiri tulisan ini dengan kata-kata Pramoedya Ananta Toer
“Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, Ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”